Seandainya Saya Tidak Menunda Saat Itu

Siang itu matahari berkilau terik. Di muka loket beberapa mahasiswa berbaris sekalian bawa arsip Kartu Gagasan Study yang telah berisi, tinggal menanti disetujui. Tentukan gagasan studi dalam perkuliahan di zaman tahun 90 an berbeda jauh dengan saat ini. Bila saat ini begitu simpelnya dapat KRS an online dari rumah, waktu itu mahasiswa harus tiba ke universitas untuk masukkan arsip ke loket yang telah disiapkan.

Bila kelas matakuliah bisa terima bermakna arsip dapat disetujui, tetapi jika kelas yang diputuskan penuh, bermakna opsi kita dicoret harus mengulang-ulang kembali untuk mendaftarkan. Untuk mengantisipasi umumnya kita tiba pagi-pagi betul agar bisa barisan depan dan cepat dilayani. bila ditampik masihlah ada kesempatan untuk membuat revisi kelas. Terkadang tiba telah pagi sekali, masih usai sampai sore karena jumlahnya yang mengurusi KRS.

Umumnya yang cepat habis paket kelasnya ialah dosen-dosen yang favorite. Dosen yang ‘baik hati’ dan gampang luluskan mahasiswa (walau sebenarnya semua dosen baik, cuman modelnya yang berbeda).

Ada satu mata kuliah sebagai momok waktu itu yakni susunan aljabar. Selain materinya susah, dosennya sedikit susah memberi nilai. Nilai 0 bukan suatu hal yang aneh untuk matakuliah satu ini.

Tetapi mendadak ada berita bahagia yang terhembus di kelompok mahasiswa. Mata kuliah susunan aljabar keluar dalam dua offering (kelas) yakni A dan B. Kelas A diajar oleh bapak dosen yang umumnya dan kelas B diajar oleh orang kepercayaannya. Masih terbilang muda, terlihat sabar juga. Berkenaan dengan hal itu dapat diterka, kami berebut masuk offering B untuk mata kuliah susunan aljabar.

Karena hari itu ialah hari awal pengurusan KRS , mahasiswa benar-benar berjejal, sampai jam 1/2 satu saya tidak dapat masukkan arsip. Saat jam telah memperlihatkan jam satu semangat saya telah roboh. Rasanya capek sekali. Formulir yang perlu nya dimasukkan pada loket, saya masukan kembali ke tas dengan kemauan saya balik esok. Toh, universitas saya tidak sangat jauh dari rumah. Beberapa rekan menahan saya pulang. “Eman, mbak, tidak boleh, nyaris usai ini.., ” Tetapi saya masih bersikukuh tiba kembali besoknya.

error: Content is protected !!